Minggu, 31 Mei 2020

Seleksi Alam, New Normal dan Dongeng

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id - "Seleksi alam sedang terjadi" begitu bunyi status yang menghiasi media sosial kita belakangan ini. Merespon maraknya pandemi Covid-19. Tren terkini peningkatan penyebaran virus SARS-CoV-2 masih menunjukkan kurva terus menanjak. Khususnya di negeri kita tercinta. Belum ada tanda2 penurunan angka paparan. Namun pemerintah kita bersiap membuat skema kebijakan tatanan normal baru produktif dan aman covid-19. Atau lebih dikenal dengan "New Normal".

Ada 2 hal yang perlu mendapat perhatian. Pertama "Seleksi alam". Sebuah proses teori evolusi yang diambil dari tokoh yang dianggap kontroversial yang hidup di abad 19; Charles Darwin. Dalam bukunya The Origin of spesies. (Sudah jadi bacaan anak smp ini colek kak Muhammad Asyam Abyan hehehe).

Buku setebal hampir 600 halaman itu. Secara sederhana bisa di tulis ringkas; fase kehidupan meliputi 4 hal, yaitu Struggle for life (Berjuang untuk hidup), Survival of the fittes (bertahan agar tetap sehat), Natural selection (seleksi alam) dan Progress (kemajuan).

Sejatinya proses seleksi alam tidak hanya berlangsung di era covid-19 saat ini saja. Sejak mahluk hidup ada maka proses seleksi alam terjadi. Di masa apapun, kapanpun. Hanya saja pandemi kali ini tantangan untuk survival of the fittes menjadi titik beratnya. Meski ada juga yang tidak mempercayai keberadaan virus yang ramai di kenal dengan Corona ini. Bener ada apa tidak?. Faktanya proses seleksi alam tetap jalan terus. Kita mau masuk fase Progress apa tidak?. Itu yang kita perjuangkan di masa kekinian, berharap selamat dan mungkin akan menjadi bentuk baru secara fisiologi sampai kultural.

Belajar dari masa lalu. Wabah pernah terjadi di era kerajaan. Kiranya itu jaman Majapahit. Cerita ini pernah saya tulis. Bersumber dari cerita tutur masyarakat dusun Penanggungan desa Penanggungan Kecamatan Trawas Mojokerto. Mau dongeng ta?. Siapa tau kangen tulisan dongeng saya Hehehe..

Begebluk atau pagebluk istilah wabah jaman dahulu itu malah lebih ekstrim. Pagi sakit sore meninggal. Mungkin karena masih minimnya fasilitas kesehatan (faskes) kala itu. Nah, tokoh pahlawan kita satu ini populer dikenal dengan nama mbah Lampet. Karena mampu mencegah marabahaya. Menahan wabah penyakit yang sengaja disebarkan pihak lain yang bikin teror. Membuat keresahan rakyat. Motifnya politik dan ekonomi. Agar pajak tidak di serahkan ke Majapahit. Pihak lain itu ingin menguasai wilayah penanggungan dan sekitarnya. Kira2 apa ada persamaan dengan saat ini hehehe..

Mbah Lampet yang kemudian di kenal dengan Ki Ageng Aryo Penanggungan itu. Konon dengan kesaktian dan ijin sang Kuasa dapat mengalahkan pasukan gajah ghoib hanya dengan tiga tepukan. Ternyata memiliki filosofi yang sangat dalam makna 3 tepukan itu. Semacam peringatan kepada kita semua. Agar tetap menjaga hubungan vertikal dan horisontal. Dalam kontek Islam, Iman dan Ikhsan.

Makam mbah Lampet ada di dusun Penanggungan. Masyarakat setempat begitu menghormati jasa beliau. Meski ratusan tahun berlalu. Makam beliau di bangun dan dirawat dengan baik. Apalagi lokasinya dengan view gunung penanggungan yang indah. Seperti nama beliau Ki Ageng Aryo Penanggungan.

Balik ke kondisi sekarang. Wabah virus corona ini menginfeksi hampir seluruh negara2 di dunia. Kebijakan lockdown terjadi dimana2. Seruan dan himbauan stay at home selalu menghiasi linimasa media sosial kita. Begitulah kebijakan 3 bulan kebelakang ini. Dirumah saja. Sampai kapan harus bersembunyi dalam arti melawan virus ini?. Negara2 besar di dunia mencatatkan pertumbuhan ekonomi minus. Sementara kita bersyukur Indonesia masih turun di kisaran 2.3 persen. (Data kemenkeu).

Ini bukan sekadar masalah ekonomi. Tidak ada rumus hidup itu diam. Karena hakekatnya hidup itu ya bergerak. Dalam sebuah training yang di gelar oleh trainer ternama, saya diajarkan Emotional. Perpaduan Energy + Motion. Untuk hidup sukses dan bahagia perlu energi dan jangan berhenti bergerak. Meski jatuh beribu kali tetap terus bangun dan bergerak. Nah bagaimana bisa sehat kalo hanya diam saja. Malah justru ga sehat. Prinsipnya menjaga kesehatan tetap prioritas di era pandemi ini. Tentu tidak mudah untuk merubah perilaku yang sudah menjadi habit. Barangkali itu hikmah dari keterpaksaan. Jika tidak dipaksa berapa banyak lagi paparan virus yang belum di temukan obat dan vaksinnya ini.

New Normal adalah perhatian kedua kita. Jangan di artikan kita berdamai dengan Corona. Itu tidak akan pernah. Sampai kapan pun. Justru itu perlawanan riil kita yang sebenarnya. Tentu dengan strategi yang tidak sembarangan. Jangan sampai mati konyol. Makanya perlu protokol ketat di lakukan di semua sektor kehidupan agar tidak gampang di kalahkan virus yang penyebaran utamanya melalui droplet ini. Tinggal kita ikuti saja secara sukarela dan kesadaran menjaga diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar kita. Se-sederhana itu.

Justru yang sontak bikin keprihatinan adanya perubahan tradisi dan kebiasaan. Baik dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Itu yang patut di pikirkan. Bagaimana esensi yang diajarkan para pendahulu leluhur kita jangan sampai hilang karena dampak covid-19. Seperti saat ini bersalaman dihindarkan karena tidak boleh bersentuhan. Apalagi pake berangkulan dan cipika cipiki. Tradisi bersilaturahmi di hari raya di ganti secara daring. Pun mudik di larang. Dan masih banyak hal lain. Tapi masih saja masyarakat tidak bisa meninggalkan kebiasaan beli baju baru, faktanya mall2 penuh antrian dan pasar2 tradisional masih rame jelang hari raya hehehe..

Memang harus menyesuaikan karena kerumunan massa haram hukumnya memicu cluster persebaran baru. Sehingga berbagai kegiatan tradisi dan ritual yang mengumpulkan banyak orang harus di tunda dulu untuk kondisi saat ini. Bukan berarti acaranya di tiadakan. Seperti tradisi ruwah desa atau sedekah Desa jelang bulan puasa kemarin. Bebarapa desa masih mengagendakan dengan acara tidak lagi terpusat. Tetapi tersebar di masing2 langgar dan musholla. Ini adalah cara kita agar tradisi ini tetap ada dan jangan sampai di tinggalkan.

Kehidupan New Normal akan melahirkan kebiasaan2 baru. Cara2 baru yang tak pernah ada dalam peradaban sebelumnya. Mungkin dahulu saat flu spanyol melanda semua orang pake masker yang menutup mulut dan hidung; Sama. Berjabat tangan pun tidak boleh; Sama. Physical Distancing; Sama. Trus apa yang beda?.

Teknologi informasi dan kesehatan saat ini tentu lebih maju di banding tahun 1918 sampai 1920 kala flu Spanyol terjadi. Mestinya kemudahan akses informasi apapun saat ini bisa lebih cepat dan tepat diterima pengguna gawai (baca HP). Hari gini siapa yang tidak pegang HP?!. Artinya informasi menjadi efektif di terima semakin banyak individu masyarakat. Seterusnya menentukan apa yang terbaik bagi dirinya dan sekitarnya.

Bukan malah menggunakan gawai untuk menebar hoax dan ujaran kebencian. Istimewa bila pemanfaatan TI bisa menjadikan lebih produktif dan mendatangkan profit misalnya digunakan sebagai sarana jual beli di market place. Inilah yang perlu lebih intens dan masif di gerakkan di era New Normal. Sedapat mungkin mengurangi kontak langsung dengan banyak orang.

Seorang teman yang pebisnis online sedikit memberi simulasi. Dia punya 10 toko di beberapa market place populer. Target profit per satu tokonya 100rb/ hari. Bisa di hitung berapa keuntungan per harinya; 1 juta. Per bulannya; 30 juta. Menarik bukan?!!. Gaji saya aja lewat hehehe..

Di balik kesulitan selalu ada kemudahan (baca peluang) bergantung kita bisa membaca dengan cerdas dan bijak. Apapun situasinya justru harusnya menghadirkan kreativitas dan inovasi. Contoh sederhana saja. Saat ini karena belum di temukannya obat dan vaksin covid-19. Sudah mulai banyak produk2 penguat imun, pencegah virus corona dan bahkan obat herbal yang di yakini bisa membunuh corona.

Sebut saja Eucalyptus atau minyak kayu putih yang sebenarnya adalah minyak angin yang biasa kita pake saat masuk angin atau mengurangi rasa sakit flu. Ada lagi yang juga sedang naik daun. Di percaya bisa mengobati dan mencegah virus corona. Penggunaan Probiotik terutama Lactobacillus yang sebenarnya untuk kesehatan saluran cerna. Coba di cek di salah satu market place berapa harga produk2 tersebut saat ini. Fantastis bukan. Peluang bisnis yang menjanjikan.

Ada juga fenomena paradox terjadi saat ini. Seorang kawan pemilik toko mas bilang justru belanja masyakat atas kebutuhan logam mulia ini relatif stabil bila di banding sebelum pandemi. Padahal banyak yang bilang saat ini ekonomi sedang terpuruk tapi sebagian masyarakat kita masih bisa memenuhi kebutuhan tersier mereka. Hmmm...

Maka jangan bilang Terserah. Sebelum ikhtiar sampai mentok di lakukan. Mengharap bantuan pemerintah hanya bagi mereka yang benar2 sangat membutuhkan. Kita yang masih punya semangat dan kekuatan untuk belajar dan berusaha beradaptasi dan keluar dari krisis kesehatan ini.

Bila ingin selamat dari fase Natural selection untuk menuju Progress. Seperti jerapah purba yang dahulu punya leher pendek. Karena adaptasi dan harus bisa tetap hidup, terjadi evolusi pemanjangan tulang leher dari tulang belakang. Untuk survivalitas. Kita pun akan berevolusi menghadapi situasi pandemi ini. Bukan hanya fisiologi juga kultural. Prinsip tetap menjaga warisan pendahulu. Mungkin karena hal itu keberlangsungan alam semesta ini tetap seimbang dan terjaga.

Sekali lagi kata "terserah" sama halnya dengan menyerah. Apakah kita mau kalah begitu saja??. Sesungguhnya pertempuran untuk saat ini belum ada apa2nya.

Wallahu a'lam.

Ditulis oleh Iwan Abdillah, Asisten Sekertariat Daerah Kab. Mojokerto
Dikabarkan ooleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi