Senin, 02 Desember 2019

Koesbini Anak Dari Hutan Kemlagi

Pencipta lagu (Hymne) Bagimu Negeri
Oleh : Joehannafiq
Raden Koesbini
www.kemlagi.desa.id - Kita sering menyanyikan lagu Padamu Negeri, tetapi kita tidak banyak tahu siapa pencipta lagu itu. Padahal komposernya adalah orang yang lahir di daerah Mojokerto. Begini sedikit kisahnya.

Tahun 1943, Raden Koesbini bertemu dengan Soekarno. Pertemuan dua orang yang masa kecilnya pernah hidup di Mojokerto itu bukan tanpa tujuan. Soekarno yang saat itu dipercaya sebagai Ketua Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) oleh Jepang sengaja memanggil Koesbini. Soekarno ingin Koesbini menciptakan sebuah lagu bertema tentang kecintaan pada Indonesia. Soekarno ingin ada lagu Indonesia untuk mengurangi efek propaganda lewat lagu ciptaan Jepang. Tugas itu diselesaikan Koesbini dengan menciptakan lagu "Bagimu Negeri".

Koesbini pada masa Jepang memang sudah menyandang nama besar di dunia musik Indonesia. Karena nama besarnya tersebut dia ditunjuk sebagai wakil ketua bagian musik pada Keimin Bunka Shideshe (Pusat Kebudayaan) yang didirikan Jepang pada tanggal 1 April 1943. Demikian pula ketika Soekarno ditunjuk sebagai ketua PUTERA tidak lupa mengajak Kusbini beserta seniman lainnya untuk memperkuat lembaga tersebut. Dari sana pergaulan Koesbini semakin luas, bukan hanya soal musik, dia pun bertambah rasa kebangsaannya.

Sebagai bukti Koesbini salah tokoh yang patut diperhitingkan pada masa penjajahan Jepang adalah namanya masuk dalam buku "Orang Indonesia Yang Terkemuka di Jawa". Buku terbitan Gunseikanbu itu terbit pada tahun 1943.

Raden Koesbini lahir di Kemlagi pada 1 Januari 1909. Dia anak R. Koesnio, seorang mantri kehutanan (hoofdiner Boswissen) dan ibunya bernama Moesinah. Sebagai anak pegawai kehutanan maka Koesbini terbiasa hidup berpindah tempat di daerah yang boleh dibilang kawasan pinggiran. Maka Koesbini pun banyak bergaul dengan anak-anak desa tepi hutan yang hidup dalam kesengsaraan jaman penjajahan.

Di sebelah utara perempatan desa Kemlagi memang ada lokasi Kemantrian kehutanan yang menjadi bagian dari pemangku kehutanan Mojokerto. Kemungkinan besar di tempat yang sekarang digunakan sebagai tempat pembibitan tanaman itulah Koesbini kecil lahir dan  menghabiskan waktu bermainnya. Hidup di Kemlagi memang tidak lama karena harus mengikuti orang tuanya pindah tugas sebagai Mantri Kehutanan.

Pendidikannya diawali dengan belajar di HIS Jombang. Masuk ke HIS sudah menunjukkan kelas sosial keluarga Koesbini sebagai bagian dari strata priyayi. Setelah itu dia melanjutkan ke MULO dan kemudian mengambil kursus ilmu dagang di Senerpont Dornis di Surabaya hingga selesai pada tahun 1926. Namun setelah selesai justru ketrampilan tersebut tidak digunakannya. Sempat sebentar bekerja di Toko Lindeteves Surabaya namun Koesbini lebih memilih menjadi musisi.

Sejak kecil mamang gandrung dengan alat musik. Dia belajar secara otodidak dengan bimbingan kakaknya, Koesbandi. Setelah selesai sekolah Koesbini segera menyusul kakaknya yang terlebih dulu merintis karir musik di Surabaya. Koesbini bergabung dengan orkes keroncong Jong Indische Stryken Tokkel Orkest (JISTO) dimana Koesbandi juga ada di dalamnya. Sang kakak memang menjadi panutan Koesbini dalam memulai karirnya. Karena minatnya pada musik itu dia ingin menambah ilmu dengan masuk pada Algemene Muziekler Apollo (Sekolah Musik Apollo) di Malang tahun 1927.

Tawaran menjadi pemain musik dan penyayi datang dari radio NIROM. Dia juga dipercaya memimpin Studio Orkes Surabaya (SOS) merangkap sebagai penyayi bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami. Selain itu, Kusbini juga merangkap pembantu penyiar pada radio "CIRVO" (Chines Inheemse Radio 
Luisteraars Vereniging Oost java) dan bekerja juga sebagai penggubah lagu di pabrik piringan hitam "Hoo Sun Hoo".

Karir musiknya menanjak dan kian diperhitungkan. Koesbini kemudian diajak oleh Fred Young untuk bergabung pada Majestic Film Company yang berpusat di Malang. Dia diminta untuk membuat ilustrasi musik pada film yang diproduseri oleh Fred Young. Karena kegiatan film lebih banyak di Batavia maka Koesbini pun pindah kesana.

Di dunia film itulah kemampuan Koesbini semakin terasah. Bukan hanya ilustrasi musik, dia juga menciptakan lagu film atau soundtrack pada film musikal "Jantung Hati". Ada 11 lagu gubahan Koesbini dinyanyikan dalam sepanjang film yang diputar untuk pertama kalinya pada tahun 1941. Film berbiaya tinggi untuk ukuran saat itu disokong pembuatannya oleh pemilik Pabrik Gula Candi Sidoarjo. Koesbini juga mendapat kesempatan beradu peran dengan bintang film pribumi pada beberapa film produksi Majestic Film.

Lagu Bagimu Negeri memang lagu Koesbini yang paling dikenal. Lagu pendek pesanan Soekarno itu sudah menjadi persoalan sejak awalnya. Jepang mencurigai lagu Koesbini itu sebagai lagu yang memprovokasi kaum pribumi untuk merdeka. Untung tuduhan itu bisa dijawab dengan alasan semua orang harus mengabdi pada negeri, seperti orang Jepang juga. Demikian pula setelah Indonesia merdeka, Koesbini sempat dituduh memplagiasi lagu itu oleh Joseph Moeljo Semedi. Namun gugatan itu tidak diteruskan setelah Koesbini menjawab tidak kenal dan tidak pernah bertemu dengan Semedi. Tentu jawaban yang cukup kuat karena tidak mungkin mencontek jika tidak tahu dan lagu Semedi juga tidak pernah dipublikasi.

Saat persiapan kemerdekaan Indonesia, Soekarno mengajak Koesbini manjadi anggota Panitia Lagu Kebangsaan. Panitia yang diketuai Soekarno itu juga beranggotakan WR. Soepratman dan beberapa pemusik lainnya. Dari panitia itulah muncul usulan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Koesbini menghabiskan masa hidupnya di Jogjakarta. Dia tetap berkiprah di dunia musik yang dicintainya. Konsistensinya di dunia musik keroncong membuat dirinya mendapatkan gelar "Buaya Keroncong". Koesbini meninggal pada tahun 1991 dan untuk menghormatinya maka jalan di depan rumahnya diganti menjadi Jalan Koesbini.

Sumber : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2752006268359649&id=2016135171946766

Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi