Jumat, 18 Mei 2018

Perkembangan Penduduk Mojokerto Zaman Kolonial

ilustrasi
PRIBUMI DAN NON-PRI KOLONIAL
Perkembangan penduduk Mojokerto
www.kemlagi.desa.id - Pendataan penduduk sudah sejak dulu dilakukan. Pada jaman kerajaan Mataram jumlah penduduk atau cacah menjadi ukuran untuk menentukan batas wilayah. Karena itu ada istilah yang kita kenal dengan istilah penewon dan penatus sebagai sebuah kesatuan adminstrasi. Penewon adalah kelompok dengan jumlah penduduk sekitar 1000 orang dan penatus berjumlah 100-an jiwa. Maka penewon adalah kumpulan dari 10 penatus.

Pendataan penduduk di Jawa secara rigid pertama kali dilakukan pada masa pemerintahan Letnan Jendral Raffles pada tahun 1815. Diketahui pada waktu itu jumlah penduduk Mojokerto dan Surabaya ada 127.938. Mengapa penghitungan penduduk Mojokerto dijadikan satu dengan Surabaya ? Itu karena wilayah Mojokerto secara administratif digabungkan menjadi Karesidenan Surabaya. Mojokerto yang masih bernama Japan diambil dari Kerajaan Jogjakarta tahun 1811.

Tahun 1832 dilakukan pendataan lagi dan diketahui bila penduduk di Surabaya dan Mojokerto mengalami kenaikan siginifikan. Tercatat jumlah orang yang mendiami kawasan hilir kali Brantas itu mencapai 363.227 jiwa. Prosentase kanaikannya diatas 100 persen itu kemungkinan besar karena adanya ekaodus penduduk dari wilayah Vorstenlanden (kerajaan) setelah berakhirnya Perang Diponegoro tahun 1830.

Para prajurit Diponegoro meninggalkan daerah asalnya untuk menghindari penangkapan oleh para prajurit kerajaan. Pilihannya tentu keluar dari wilayah kerajaan tersebut. Salah satu basis pelarian memang ada di wilayah Surabaya dan Mojokerto yang secara administratif masuk dalam kekuasaan gubernemen Belanda. Aparat pemerintahan lokal tidak bisa mendeteksi kehadiran pendatang itu karena kebanyakan mereka membuang identitas lamanya.

Data jumlah penduduk Mojokerto secara terpisah tercatat pada tahun 1938. Total penduduknya sebesar 69.382 yang terdiri dari 68.951 orang pribumi (Jawa dan Madura), 370 orang China, 38 orang Eropa, 14 keturunan Arab/India, serta 9 orang berstatus budak. Ternyata setelah dipisahkan dari Surabaya, penduduk Mojokerto relatif sedikit. Pada tahun itu Surabaya didiami 361.698 orang.

Tahun 1845 diadadakan lagi pendataan demografi dengan lebih seksama oleh pemerintah kolonial. Pada saat itu wilayah Mojokerto hanya ada di daerah selatan kali Brantas. Kawasan utara kali yang dikenal sebagai wilayah Mojokasri masih ikut distrik Gunungkendeng dalam kakuasaan adminstrasi Surabaya. Mojokerto dibagi menjadi 4 distrik dengan luas sekitar 800 kilopal persegi. Keempat distrik itu adalah Mojokerto, Mojosari, Mojoagung dan Mojorejo. Kelak di tahun 1910 distrik Mojoagung dan Mojorejo menjadi Kabupaten Jombang.

Pada saat itu ada 938 Desa dan Kampung yang masuk dalam wikayah Kabupaten Mojokerto. Tanah yang ada diklasifikasikan menjadi dua yaitu tanah Gubernemen atau tanah negara dan tanah yang disewa oleh partikelir atau swasta. Tanah partikelir itu digunakan untuk kawasan perkebunan atau ondermening. Ada 4 onderneming di Mojokerto yaitu Sentanen di distrik Mojokerto, Ngoro (Mojoagung), Banjarjeder dan Sukawati (Mojorejo)

Distrik Mojokerto dengan luas 240 kilopal persegi dihuni oleh 36.888 orang jawa. Penduduk berkelamin pria sejumlah 10.147 orang, 10.832 perempuan, 7.756 anak laki-laki dan 8.153 anak perempuan. Dari jumlah total 36.888 itu, ada sebanyak 651 orang yang tinggal di tanah partikelir yang dikuasai oleh SF Sentanen Lor.

Distrik Mojosari luasnya 220 kilopal persegi berpenduduk 21.511 jiwa. Terdiri dari 5.578 pria, 5.753 perempuan, 4.840 anak laki-laki dan 5.340 anak perempuan. Seluruhnya tinggal di tanah negara karena tidak ada tanah yang disewakan pada pihak swasta.

Distrik Mojoagung seluas 180 kilopal persegi berpenduduk 16.817 orang dengan komposisi 4.093 pria, 5.365 perempuan, 4.245 anak laki-laki dan 3.114 anak perempuan. Sedangkan distrik Mojorejo luasnya 160 kilopal persegi dihuni oleh 12.995 orang terdiri dari 3492 pria 4401 wanita 2979 anak laki-lai serta 2123 anak perempuan.

Dengan data itu maka total penduduk Mojokerto berjumlah 88.211 orang. Jumlah itu maaih ditambah dengan orang non pribumi yang terdiri dari orang eropa sebanyak 103 orang dengan kategori 30 pria dewasa, 16 wanita serta 57 anak-anak. Etnis China berjumlah 713 orang (201 pria, 181wanita dan 331 anak-anak). Orang Arab/India hanya sebanyak 36 orang (11 pria 8 wanita dan 17 anak-anak).

Struktur demigrafi dapat dijadikan sebagai tolak ukur perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Bila memiliki banyak penduduk tentu akan semakin maju karena semua kegiatan dilakukan dengan tenaga manusia. Lahan yang tersedia dapat digarap maksimak dengan ketersediaan sumber daya manusia. Demikian pula dengan adanya orang asing non pribumi, terutama keturunan Eropa dan China juga menjadi parameter kemajuan tersebut.

Di karesidenan Surabaya penduduk asing paling banyak tentu ada di kabupaten Surabaya yang ditinggali oleh 2.352 orang Eropa dan 2.764 etnis China. Jumlah yang ada di Mojokerto ada di bawah Surabaya dimana Mojokerto ditinggali oleh 816 warga nonpribumi tersebut. Gresik memilii penduduk nonpri karurunan Eropa dan China sejumlah 767 orang, tetapi ada banyak orang arab/india yang berjumlah 1088 orang.

Jumlah etnis China dan juga Eropa di Mojokerto semakin meningkat seiring banyaknya pabrik gula. Pada sensus penduduk atau Volkstelling tahun 1930 etnis China sekitar 10 persen dari jumlah penduduk Mojokerto.