Senin, 28 Mei 2018

Jurus Maut Kepala Desa Ponggok Klaten Membangun Desa

Menkeu Sri Mulyani ajak Kades Ponggok Junaedi ber-swafoto
Tepati janji kampanye dengan melibatkan mahasiswa dan akademisi

www.kemlagi.desa.id - Sebanyak 40 ribu wisatawan berkunjung ke Desa Ponggok Klaten Jawa Tengah setiap bulannya. Terdapat empat umbul alami yang dijadikan jujugan wisatawan. Ada 9 ton padi dihasilkan setiap lima bulan. Sekitar 7 ton ikan air tawar dipanen setiap minggunya. Pendapatan desa melonjak hingga Rp 4,2 miliar per tahun. Potensi yang tergali dengan bertumpu pada kemauan warga dengan melibatkan mahasiswa dan akademisi.

Undang Mahasiswa

“Pembangunan desa yang terencana itu muncul untuk menepati janji saya saat kampanye. Kepada warga saya janjikan Ponggok akan menjadi desa wisata mandiri, berkelanjutan, merata dan adil, maju dan peduli pada lingkungan,” kata Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono Sabtu 14 April 2018. 

Junaedi, Kades Ponggok
Tiga bulan setelah terpilih di tahun 2006, ia berkirim surat pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (LPPM UGM). Ia meminta UGM untuk menurunkan mahasiswa KKN tematik dengan tujuan membenahi pendataan tentang potensi dan kendalan dari Desa Ponggok. Ia merasa desanya tidak mengalami kemajuan dan pembangunan yang muncul salah sasaran.

Perbaikan jalan, perbaikan talut, gedung yang megah dan tinggi memang terjadi namun tidak banyak mengubah kondisi warga. Usaha budidaya ikan air tawar yang dirintisnya sejak lulus kuliah dari Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta tidak berkembang karena tidak tersentuh pembangunan.

Umbul Ponggok
Surat pun bersambut dengan penempatan mahasiswa KKN selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2007. Hasilnya, Junaedi pun melihat potensi dan masalah nyata yang membutuhkan rencana tepat yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) desa. “Warga saya terlilit kemiskinan, pengangguran, rentenir. Temuan mahasiswa merinci jumlah penduduk miskin, luas sawah, perikanan, potensi air, peternakan, jalan rusak, talut, sumber daya manusia, dan berbagai data lain yang sangat berguna untuk membuat RPJM,” jelasnya.

Masalah lain yang ditemukan adalah pembangunan tak tepat sasaran, sumber daya manusia yang kurang, pola pikir terhadap pembangunan, serta tidak efektifnya aparat pemerintah yang dibebani fungsi ganda, sebagai pelayan masalah publik sekaligus menggenjot perekonomian masyarakat.  

Berangkat dari temuan masalah itu, kepala desa kelahiran 43 tahun lalu ini mulai menyusun empat jurus maut guna menyelesaikan masalah. Tata ruang dan perencanaan wilayah ada di jurus pertama, disusul membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebegai sektor penggerak ekonomo dan keuangan masyarakat,  kemudian meningkatkan sumber daya manusia, dan melibatkan teknologi informasi sebagai jurus penutup.  
UKM Desa Ponggok
Empat Jurus Maut

Sejumlah program kemudian lahir dari empat strategi itu Gebrakan pertama adalah program satu rumah satu kolam. Program ini ada di awal ia menjabat dan ditujukan pada rumah di sekitar irigasi dan sungai sebagai strategi mengatur hunian di tepi sungai sekaligus memanfaatkan aliran sungai.

Ada pula program potong satu pohon tanam empat pohon yang ditujukan untuk konservasi lingkungan. Aturan 30% zona hijau juga diterapkan di setiap pembangunan hunian baru. Tahun 2009 BUMDES didirikan untuk mengembangkan perekonomian warga. Hasilnya kini terdapat sekitar 160 usaha kecil dan menengah milik warga setempat yang dipasarkan oleh Bumdes.