Selasa, 20 Juni 2017

WAITING FOR THE BLANGGUR - Ngabuburit anak jaman dulu

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id - Catatan ini kami share dari sebuah akun FB Serpihan Catatan Ayuhanafiq Sore itu, seperti juga sore lainnya saat puasa, kami anak-anak kampung nongkrong di tepi jalan. Jalur penghubung transportasi ke ibu kota kabupaten yang masih berupa jalan makadam. Ya, kegiatan yang sekarang dikenal dengan ngabuburit, dulu kami sebut golek/mencari maghrib. Satu tanda maghrib senantiasa kami tunggu dari arah kota.

Hidup di desa yang jaraknya sekitar 20 kilo dari pusat kota tentu jarang melihat keramaian. Maklum, tidak setiap hari dan tidak semua orang bisa pergi melihat riuhnya kota dengan kabel Aniem menjulur sepenjang jalan. Setiap hari kita hanya tahu sawah, kebun, kali dan pepohonan yang bisa dinikmati. Kegiatan lungo masih menjadi sebuah kemewahan, bahkan sekedar datang ke pasar kecamatan terhitung jarang.

Bulan puasa, hari-hari kami menjadi beda. Aktivitas harian menjadi berkurang. Petani pulang lebih pagi dari sawahnya untuk menghindari sengatan matahari yang bisa menguras energi. Siang hari menjadi sepi, teman sepermainan seolah menghilang semua. Jika tidak puasa pada siang itu biasanya anak kampung berkumpul pada halaman luas dan rindang untuk bermain bersama. Keceriaan bermain siang hari berganti dengan tidur bersama di langgar kampung.

Usai ashar, baru kehidupan berputar kembali. Teman-teman berpencar meninggalkan langgar panggung. Tujuannya ke sawah atau ke kebun untuk mencari buah yang bisa dibawa pulang. Bisa jambu, juwet atau buah liar lainnya yang tidak dirawat khusus oleh pemiliknya. Di sawah ada buah ciplukan dan tidak jarang ngasak sisa umbi yang masih tertinggal usai di panen. Segala makanan itu akan menjadi santapan pelengkap buka puasa. Kalo saja tidak puasa mungkin mencuri tebu lebih asyik dilakukan. Tebu yang sudah dikupas dan direndam air es akan terasa nikmat. Sayangnya, kata guru ngaji, puasa gak boleh mencuri.

Golek maghrib dijalani bareng setelah mandi. Kostum yang dipakai baju harian dengan sarung dilengkapi kopyah di kepala. Tempat favorit untuk menunggu maghrib, ada di bawah pohon termbesi di tepi kali yang mengalir sepanjang jalan makadam. Tidak banyak bicara diantara kita.Beberapa orang melintas dengan mengayuh sepeda, lebih banyak yang lewat jalan kaki. Jika ada orang kenal melintas maka akan terjadi tegur sapa, "golek maghrib rek?" kata yang kerap kita terima. "Nggeh, wak.." jawaban kita dengan nada koor.

Kalo kita tidak banyak bicara, itu bukan berarti kita gak kuat lagi bicara karena kehabusan tenaga, tidak. Kita memang semgaja mencari suasana hening untuk menunggu suara yang kadang-kadang satup mampir ke telinga. Kenapa kita berkumpul di jalanan, tempat terbuka? Itu karena bisa tidak terdengar suaranya bila ada di ruang tertutup, terhalang dinding. Suara itu merupakan penanda waktu kita mengakhiri puasa. Setiap sore kita menunggu suara mercon atau mungkin suara ledakan bom yang kita sebut blanggur. Saking konsentrasinya mendeteksi suara blanggur, bila ada teman yang mengajak bicara maka akan diperingatkan. We are waiting for the blanggur.

Duuuummmm......suara itu kami dengar, segera kami berlomba lari menuju rumah masing-masing. Saat berlari itu tidak jarang kita teriak, "buko...bukoooo..!!" Maka orang yang mendengar teriakan kami masuk ke rumah untuk membatalkan puasanya. Buka puasa dilakukan setelah ada suara blanggur.

Pada sore lainnya, kegiatan kumpul golek maghrib dilakukan. Kita, anak desa tidak pernah tahu apa dan bagaiman bentuk blanggur itu. Cerita tengtang blanggur kita dapat dari orang tua yang pernah ke kota. Menurutnya, blanggur itu bom yang ditembakkan saat waktu maghrib. Lokasinya di alun-alun depan masjid Agung Kabupaten. Bom blanggur itu ledakkan untuk memberi tahu sudah waktunya berbuka.

Nama blanggur muncul dari dua suku kata, Blang dan gur. Istilah yang diambil dari "blang", suara ledakan di udara dan disusul oleh resonansi seperti suara guruh, gur-gur-gur. Bunyi gemuruh itu hasil resonansi suara ledakan. Bahan peledak sebesar kelapa dimasukkan dalam alat pelontar yang akan melemparnya ke udara. Ledakan di udara itulah yang disebut blanggur.

Ternyata keberadaan Blanggur bukan hanya di Mojokerto, semua masjid agung kabupaten melakukan hal yang sama. Ternyata keberadaan blanggur itu memang atas perintah komandannya para tentara. Perintah yang ditindaklanjuti oleh bawahannya ditingkat kabupaten. Seorang petugas dari masjid akan memberi tahu pada se-regu tentara yang telah siap dengan blanggur. Karena berbentuk bahan peledak yang dibinyikan dengan cara tertentu maka butuh orang yang ahli.

Ritual peledakan blanggur itu menjadi tontonan warga kota. Berbeda dengan di desa, orang kota datang dan berkumpul di alun-alun. Saat blanggur diledakkan, semua orang menutup rapat telinganya. Suara yang di desa terdengar merdu, di kota pasti memekakkan gendang telinga. Begitu cerita orang desa yang pernah ke kota saat membagi pengalamannya. Lalu suara blanggur membuyarkan dia bercerita. Lalu kita semua lari sambil teriak, "bukoooo...bukoooo...".

Sampai sekarang setelah menua, saya belum tahu bagaimana wujud blanggur itu. Apakah mirip dengan mercon yang menyisakan serpihan kertas setelah ledakan terjadi, atau bagaimana ? Mungin tidak penting mengetahui seperti apa bentuknya karena yang kita butuhkan adalah suara blanggur itu. Dan dengan setia menunggu datangnya suara blanggur.