Selasa, 20 Juni 2017

Inilah yang Membuat Desa Kesulitan Mengembangkan BUMDes

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id – Apa yang membuat banyak desa di berbagai pelosok di Indonesia kesulitan mengembangkan BUMDesa, salah-satunya karena para pemuda desa tidak dilibatkan dalam diskusi sejak awal. Celakanya, ketika penyusunan pengurus BUMDesa, yang dipasang adalah warga desa golongan tua yang sudah tidak memungkinkan melakukan inovasi manajemen usaha.  

Parahnya lagi, setelah memilih struktur, posisi-posisi penting operasional BUMDesa lagi-lagi ditempati orang-orang tertentu yang sama sekali tidak punya kemampuan mengembangkan usaha. Akibatnya gampang ditebak, BUMDesa langsung loyo dari bulan pertama beroperasi. Padahal sesungguhnya anak muda desa-lah yang memiliki kemampuan mengembangkan usaha BUMDesa.

Pemahaman para perangkat desa mengenai BUMDesa sendiri juga masih berkutat pada wilayah desanya saja. Sehingga BUMDesa terjebak pada skala usaha yang besarannya sesuai daya beli warga desa. Situasi seperti ini-lah yang membuat BUMDesa kesulitan meningkatkan pendapatannya. Tetapi yang paling parah adalah ada banyak kepala desa merasa kehadiran BUMDesa malah dianggap beban bagi pemerintahan desa.

Padahal sesungguhnya BUMDesa memiliki kekuatan besar untuk menciptakan lompatan ekonomi bagi kesejahteraan desa jika dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak muda desa. Hanya saja, banyak pula kepala desa yang belum mengakui besarnya potensi desanya sendiri. Banyak kepala desa yang ‘tidak rela’ jika modal BUMDesa yang diguyurkan pemerintah diberikan pada anak-anak muda untuk mengelolanya. Apa pasal?

Secara sosial sebagian besar desa di Indonesia menganggap kepala desa adalah seorang warga yang memiliki kekuasaan yang begitu luas. Akibatnya kepala desa merasa dirinyalah orang yang paling tahu bagaimana mengorganisasikan desa termasuk proses pengembangan BUMDesa. Padahal, kepala desa selama ini lebih identik dengan pekerjaan seremonial dan administrasi. Sikap diri merasa paling berkuasa ini justru bisa menjadi salah-satu pemicu utama kegagalan BUMDesa itu sendiri.

Di kalangan anak muda, kesenjangan kekuasaan yang cenderung dikuasai golongan masyarakat usia sepuh itu membuat mereka semakin jauh pada urusan desa. Anak muda juga lebih tertarik pergi ke kota mencari pekerjaan. Tawaran BUMDesa sama sekali tidak menarik bagi sebagian besar mereka.

Sudah saatnya anak muda berpikir ulang mengenai desa. Saat ini hidup di desa tidaklah seterpencil dahulu kala. Hidup di desa kini juga sama dengan kota karena semua orang bisa mengakses internet dari manapun. Sebaliknya, kemampuan menggunakan teknologi internet seperti ini hanya dikuasai anak muda.

Nah, sudah saatnya anak muda sekarang ini memilih desanya sebagai alternatif membangun masa depan. Soalnya, sekarang ini ada banyak aktivitas kerja yang bisa dilakukan semua orang dari desa. Juga, semakin abai anak-anak muda pada desanya maka semakin jauh pula desanya dari kemajuan.

JIka saja sekelompok anak muda berani memilih untuk tinggal dan berkarya di desa dengan menggunakan internet sebagai media pengembangan jiwa wirausaha mereka. Termasuk mengelola BUMDesa-nya.  Maka, bukan tidak mungkin, perubahan bakal terjadi bukan hanya pada kehidupan ekonomi mereka saja melainkan juga bakal mempengaruhi peri kehidupan seluruh warga desanya. Seperti kata filosof hebat dari Yunani ribuan tahun lalu,” Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku rubah dunia”.

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi