Jumat, 16 Juni 2017

Cerita Indah Sang Relawan

Relawan ILM Saat Menolong Korban Meninggal Dunia
www.kemlagi.desa.id – Jaman sekarang ini media sosial sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan bahkan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik itu berupa facebook, twitter, instragram, whatsapp dan sebagainya. Banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan media sosial ini, namun tidak jarang juga media sosial dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik.

Kali ini Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi mem-posting manfaat media sosial dalam menunjang kegiatan kemanusiaan - menolong korban kecelakaan dari sebuah grup facebook, yakni sebuah grup media sosial yang diberi nama Info Lantas Mojokerto (ILM). Ternyata grup ini juga bergerak dibidang kemanusiaan lainnya, misalnya mambantu korban bencana alam, memberikan info tentang adanya kecelakaan/kejadian di suatu daerah, membagikan takjil dan sebagainya.

Dua sosok relawan yang diangkat dalam tulisan ini yakni Niki Aden dan Jaenal Abidin patut menjadi teladan bagi kita semua dalam menolong sesama.

Postingan ini sudah mendapatkan izin dari penulisnya yang juga admin dari grup ILM, pemilik akun facebook yaitu :
berikut ini tulisan selengkapnya :

Kali ini warta ILM berhasil mewawancarai salah seorang relawan yg aksinya kerap kita saksikan dalam beberapa postingan laka di beranda grup ILM (Info Lantas Mojokerto). Dia adalah Niki Aden (22) warga Desa Sambiroto Kec.Sooko Kab.Mojokerto.

Ditemui di basecamp ILM, pemuda lajang ini mengisahkan lika-likunya sebagai seorang relawan ILM. Info awal yg di dapat jika ada kecelakaan adalah dari pantauan grup ILM. Dia sudah sering ikut mengevakuasi korban Laka MD (meninggal dunia). Dari korban laka sambiroto, korban laka Kerata Api Benteng hingga yg terakhir korban Laka di Gayaman Mojoanyar.

Jika ada postingan laka yg menyebabkan korban MD, dia selalu siap siaga bergegas menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara). Seperti yg terjadi pada laka Sambiroto baru-baru ini. Ketika ia melihat info grup bahwa ada mayat tergeletak pinggir jalan, ia langsung dengan sigap mengayuh si rendy (panggilan akrab sepeda gunungnya) menuju TKP. Tanpa canggung dan kikuk, mayat langsung di bungkus plastik dan di angkut ke kamar jenazah RSUD Mojokerto.

Dalam melaksanakan tugasnya, pemuda yg juga admin grup ILM ini sangat minim peralatan. Baik alat transportasi maupun alat komunikasi. Meskipun begitu, tak menyurutkan langkahnya untuk bergerak cepat menuju TKP. Lebih hebatnya lagi, jerih payahnya menolong korban laka tersebut tidak ada imbalan materi sepeserpun.

Ketika Warta menyinggung soal gaji tiap bulannya. Mas Niki Aden menjawab:
" Gak ada mas, gaji saya ya di akhirat nanti." Jawab pria ganteng yg masih jomblo ini.

Niki Aden juga mengisahkan saat-saat evakuasi mayat ketika giginya sakit. Meskipun dalam keadaan gigi sakit, dia tetap bertugas seperti biasanya. Cekatan dan selalu semangat. Maka dari itu, sebungkus puyer sakit gigi selalu setia menemani di dalam tasnya.

Masih seputar minimnya peralatan. Saat di tanya tentang alat transportasi. ". Mas Niki Aden kenapa gak pakai motor, kok selalu mengendarai si rendy. Bukankah untuk mempercepat perjalanan ke TKP lebih cepat menggunakan motor?," Oooh... Saya Tidak bisa naik motor." Jawabnya polos. Selain tidak bisa naik motor, Mas Niki Aden juga memang tidak punya motor. Jadi dalam melaksanakan tugasnya, alat transportasi Mas Niki Aden tidak pasti. Namun dia lebih sering gowes pakai si rendy dan kadang juga bonceng temannya . Selain itu juga alat komunikasi berupa HT juga perlu ia punyai. Namun hingga saat ini dia belum bisa membeli.

Dalam melaksanakan misi kemanusiaan yg mulia ini, Mas Niki Aden tidak sendirian. Melainkan ada seorang teman karib yg selalu setia menemani dalam tugas. Beliau adalah Ahmad Zaenuri (59). Pria yg akrab di panggil Pak Jaenal Abidin ini sudah lama bertugas sebagai relawan PMI (Palang Merah Indonesia). Berbagai bentuk mayat korban MD sudah pernah di evakuasi. Dari korban yg masih utuh mayatnya hingga mayat dalam kondisi fisik hancur.

Dalam kesehariannya Pak Jaenal Abidin adalah penjual es degan di terowongan juritan (Prajurit Kulon). Profesi inilah yg menjadi pilihan untuk menghidupi keluarganya. Saat di tanya tentang gaji relawan PMI, Pria yg akrab dengan salam birunya cinta ini menjawab." Rezeki saya sudah di cukupi sama Allah dengan jual es degan. Jadi saya tidak berharap gaji dari relawan. Mungkin jadi relawan adalah tabungan amal jariyah saya di akhirat nanti." begitulah ungkapan beliau.

Baik Mas Niki Aden maupun Pak Jaenal Abidin adalah sosok yg ikhlas dalam beramal sholeh. Kita belum tentu bisa melakukan pengabdian tulus seperti mereka. Meski tidak mendapat gaji, mereka-pun tetap semangat mengevakuasi mayat. Salam hormat dan apresiasi yg tinggi buat mereka berdua.

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi