Jumat, 24 Maret 2017

Masih Minimnya Info Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja

ilustrasi

www.kemlagi.desa.id JAKARTA -- Direktur Kesehatan Reroduksi BKKBN Hitima Wardhani menyayangkan masih minimnya pusat informasi kesehatan reproduksi yang diperuntukkan bagi remaja. Padahal, remaja berhak mendapatkan kemudahan informasi kesehatan reproduksi.

"Tempat pelayanan dan pusat informasi bagi remaja yang mempunyai masalah kesehatan reproduksi masih kurang banyak," kata dia dalam diskusi bersama Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama (IPPNU) di Pondok Pesantren Luhur As-Tsaqofah Jakarta, Sabtu (24/12).

Kebutuhan remaja mendapatkan informasi itu sangat diperlukan. Ia merinci, pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja tertuang dalam PP 61 Tahun 2014 Pasal 11 dan 12.

Regulasi tersebut berupaya mencegah dan melindungi remaja dari perilaku seksual berisiko yang memengaruhi kesehatan reproduksi. Remaja juga harus mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan reproduksi yang sehat dan bertanggung jawab.

BKKBN mencatat, permasalahan remaja yang masih sering terjadi yaitu kehamilan tidak diinginkan, aborsi, kawin muda, penyalahgunaan narkoba, HIV-AIDS, dan penyakit menular seksual. Jika mereka mudah mendapatkan informasi reproduksi, pihaknya yakin semakin banyak pemuda yang menjaga diri, sehingga tidak mengalami permasalahan tersebut.

Remaja dapat menjadi pendidik rekan sebayanya. Peranan seperti itu lebih efektif karena pasti lebih mudah diterima. "Para pendidik sebaya dan konselor sebaya akan mendapatkan pelatihan dasar dengan modul terstandar dari BKKBN," ujar dia.

Remaja Indonesia harus menjadi sosok berkarakter. Mereka harus memegang nilai revolusi mental dan integritas, beretos kerja, dan gotong royong. Pihaknya ingin remaja dapat tumbuh dengan sehat dan dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki. 

Mereka diharapkan mendapatkan pendidikan setinggi mungkin, memiliki pekerjaan yang kompetitif, mendapatkan perencanaan pernikahan, dan aktif dalam kehidupan masyarakat. Mereka juga didorong untuk memiliki pola hidup sehari-hari yang sehat. 

BKKBN juga menyarankan pemerintah daerah dan perguruan tinggi memasukkan materi kesehatan reproduksi ke dalam muatan khusus. Pelajar SD hingga SLTA serta universitas perlu mengetahui persoalan ini. "Materi ini penting diketahui oleh pelajar dan mahasiswa untuk menekan kasus remaja korban kekerasan dan pelecehan seksual serta aborsi dan lainnya," kata Hitima.

Akibat tidak tahu pentingnya menjaga dan memelihara kesehatan reproduksi, banyak remaja mengalami persoalan terkait kesehatan reproduksi. Dia menjelaskan, pelayanan kesehatan reproduksi remaja adalah kegiatan yang ditujukan kepada remaja dalam untuk menjaga kesehatan reproduksi.

Pelayanan ini diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan, keluarga berkualitas, generasi sehat dan cerdas. Dampak kesehatan reproduksi yang tidak optimal mengakibatkan remaja rentan menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual serta aborsi.

Menurutnya, pendidikan kesehatan reproduksi perlu dikembangkan. Sebab, ruang lingkupnya luas, mencakup keseluruhan siklus hidup manusia. "Mulai sejak konsepsi hingga lanjut usia sementara itu laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama terhadap akses dan pelayanan kesehatan," katanya.

Ia menjelaskan, Bupati Kulon Progro telah memuat materi Kespro pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga dari jenjang SD hingga SMA/SMK. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada November telah meluncurkan kesehatan reproduksi dalam mata kuliah empat SKS dan perguruan tinggi.  Hal yang sama diharapkannya dapat berlangsung di instansi pendidikan lainnya.