Rabu, 22 Maret 2017

Indonesia Peringkat 81 Dalam Indeks Kebahagiaan

Peringkat Indeks Kebahagiaan
www.kemlagi.desa.id - Dalam rangka memperingati “International Day of Happiness” atau “Hari Bahagia Internasional” pada 20 Maret, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) merilis indeks kebahagiaan suatu negara.

Report 2017 mencatat Norwegia sebagai negara paling bahagia di dunia, menyingkirkan Denmark yang sebelumnya berada di peringkat pertama.Tingkat kebahagiaan di sebuah negara dilihat dari beberapa hal, seperti produk domestik bruto per kapita, harapan hidup sehat, kebebasan, kebaikan, dukungan sosial, dan tidak adanya korupsi dalam pemerintahan atau bisnis. Dan Norwegia dinilai sebagai yang terbaik tahun ini.

Ternyata Indonesia berada di peringkat ke-81 dengan nilai 5.262 dari 155 negara di dunia. Sementara negara Asean paling bahagia adalah Singapura dengan nilai 6.578.

Dengan negara tetangga kita, Malaysia saja, Indonesia masih kalah jauh. Malaysia menduduki peringkat 42 dengan nilai 6.084. Indeks negara dengan nilai kebahagiaan paling tinggi adalah Norwegia dengan nilai 7.537, diikuti Denmark dengan nilai 7.522, Island 7.504, Switzerland 7.494 dan Finlandia 7.469.

Survei dilakukan dengan memberikan pertanyaan subjektif kepada lebih dari 1.000 orang setiap tahunnya di lebih dari 150 negara.

Indeks kebahagiaan diukur dari faktor kekuatan ekonomi dalam Produk Domestik Bruto perkapita, dukungan sosial, harapan hidup, kebebasan memilih, kemurahan hati, dan persepsi korupsi.

Indeks Kebahagiaan Bukan Satu-satunya Indikator Kesejahteraan Masyarakat

Bagong Suyanto Sosiolog Universitas Airlangga Surabaya mengatakan, indeks kebahagiaan tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator kesejahteraan masyarakat.Indeks kebahagian itu hanya tambahan. Tidak bisa jadi ukuran satu-satunya. Ada indeks lain seperti indeks pembangunan manusia dan kepemimpinan," katanya kepada Radio Suara Surabaya

Menurut Bagong, pengukuran tingkat kebahagiaan digunakan sebagai masukan bagi Pemerintah Kota terkait program yang telah dilaksanakan, apakah masyarakat sudah merasakan manfaat program tersebut.

"Menentukan orang bahagia itu banyak variasinya. Misal, waktu disurvei tanggal 1, semua orang bahagia. Nanti beda lagi pas di survei di waktu beda," katanya.

Selain itu, ada perbedaan pendekatan kebahagian bagi masyarakat kelas bawah dan menengah di Kota Surabaya. Bagi kalangan menengah ke atas lingkungan yang asri dan bersih itu menyenangkan. Namun, bagi kelas bawah, hal yang menyenangkan masih soal pekerjaan dan pangan yang cukup.