Kamis, 06 Oktober 2016

Empat Kecamatan di Mojokerto Rawan DBD, 8 Orang Dikabarkan Meninggal

http://www.inilahmojokerto.com/wp-content/uploads/2016/10/demam-berdarah-730x355-672x355.jpg
ilustrasi
IM.com – Sebanyak 329 warga di Kabupaten Mojokerto sejak Januari hingga September 2016 terserang virus demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, 8 orang dikabarkan meninggal dunia. Korban DBD paling tinggi terjadi di 4 kecamatan.

Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Hartadi mengatakan ada empat kecamatan yang paling tinggi terjangkit virus DBD, karena kemarau basah tahun ini membuat populasi nyamuk Aides Aigepty terus berkembang.

Dikhawatirkan jumlah korban akan terus bertambah, mengingat bulan Oktober ini sudah memasuki musim pancaroba. “Tahun 2015 lalu ada 349 warga Kabupaten Mojokerto yang terjangkit DBD. Sedangkan tahun ini, baru 9 bulan berjalan sudah ada 329 korban, bahkan 8 diantaranya meninggal dunia, “ ujarnya.

Kata Hartadi, populasi nyamuk terbilang merata di seluruh kecamatan di Kabupaten Mojokerto. Namun, data yang masuk ke Dinkes dari puskesmas dan rumah sakit, kasus DBD tertinggi menjangkit warga di Kecamatan Sooko dengan 38 korban, disusul Kecamatan Mojoanyar dengan 37 kasus, Trowulan 29 kasus dan Puri 25 kasus sepanjang tahun 2016 ini.

“Penyebarannya sudah merata di seluruh kecamatan. Yang terakhir, bulan September saja terjadi 12 kasus yang kami terima,” terangnya.

Menurutnya, jika warga tidak segera sadar kebersihan, dikhawatirkan korban yang terjangkit akan terus berjatuhan. Karena, dewasa ini, nyamuk Aides Aigepty tidak hanya menyerang balita, namun remaja sampai orang tua juga sangat rentan terjangkit.

Hartadi menjelaskan, perkembangbiakan nyamuk terjadi setiap tujuh hari. Dalam kurun waktu tersebut, jentik nyamuk harus dibasmi untuk memutus mata rantai. Caranya, tiap puskesmas di kecamatan akan diminta menggelar penyuluhan keliling dan aksi pemberantasan sarang nyamuk (PSN) setiap hari Jumat. Kalau hal itu dilakukan rutin, maka tidak akan ada jentik yang jadi telur dan yang menetas jadi nyamuk. ”kalau warga melakukan itu, dinkes tidak perlu menggelar foging,” tegasnya.

Sumber http://www.inilahmojokerto.com/