Rabu, 10 Agustus 2016

Menteri Desa Siap Percepat Pengembangan BUMDes

http://www.republika.co.id/
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo siap mempercepat pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Ia juga mempercepat teknis kerjasama dengan Badan Urusan Logistik (BULOG) dan Bank Negara Indonesia (BNI), untuk turut membantu berdayakan BUMDes.

"Desa maju yang infrastruktur dasarnya sudah terpenuhi, kita arahkan untuk pengembangan BUMDes. Cuma formatnya seperti apa, BUMDEs ini intinya adalah small holding di level desa," katanya, Rabu, (10/8).

Dana desa yang dialokasikan berkisar Rp 600-700 juta setiap desa. Ini dimanfaatkan untuk bekerjasama dengan BNI untuk mendirikan satu badan usaha mikro.Selanjutnya, desa juga bisa bekerjasama dengan BULOG terkait pengadaan sarana pascapanen.

"Di Indonesia untuk sektor industri sudah cukup bagus, walaupun masih harus dilakukan pengembangan. Tetapi ketersediaan pascapanen kita masih belum ada."

Makanya perlu dibuat unit pascapanen yang soft di level desa. Pihak yang bisa jadi rekanan Bulog mungkin seperti beras.

Untuk mengembangkan produk-produk desa, kata Eko, bisa menerapkan one village one product (satu desa satu produk unggulan). Selain dapat menarik perhatian investor dan konsumen, sistem ini juga dipercaya mampu memperpendek rantai distribusi.

"Di desa-desa kita, satu desa komoditinya macam-macam dan skalanya kecil-kecil, tidak ada economic of skill. Sehingga program one village one product bila perlu 10 desa satu produk, ini bisa menarik investor untuk juga membantu sarana pascapanen, Kementerian Koperasi dan UMKM juga akan membantu untuk sarana pasca panen ini," ujar Eko.

Direktur Utama Bulog, Djarot Kusumayakti mengatakan, setiap kawasan desa memiliki hasil produksi pertanian berbeda seperti beras, jagung, dan kedelai. Dalam hal ini, Bulog akan menyiapkan sarana pascapanen untuk menampung hasil sawah.

"Tapi masalahnya, apa yang dihasilkan sawah belum memenuhi standar simpan karena pengeringan tidak sempurna. Sehingga, kami ingin Bulog berperan mulai dari drying (pengeringan) dan gudang penyimpanan," ujarnya.