Rabu, 29 Juni 2016

Kasus Vaksin Palsu, Begini Saran Dokter Anak untuk Orang Tua

http://www.jawapos.com/imgs/2016/06/36872_55279_Vaksin%20Balita.JPG
Pemberian Vaksin
JawaPos.com - Dokter spesialis anak RSUD Ulin dan RS Islam Banjarmasin, Kalimantan Selatan Edi Hartoyo mengatakan masih belum mengetahui zat apa yang ada di dalam vaksin palsu.

"Vaksin palsu itu isinya apa? Infus bekas atau air putih biasa. Kita belum tahu," ujarnya kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group).

Jadi, untuk menetapkan efek samping dan tindakan medisnya pun terbilang susah.Namun, secara umum orang tua bisa memantau kondisi anak pasca imunisasi. Didapati gejala aneh, segera bawa anak ke dokter. "Jika benar palsu, terpaksa harus divaksin ulang. Karena yang palsu sudah pasti tidak memberi kekebalan tubuh," tegasnya.

Agar mudah, Edi memberi panduan untuk orang tua dan pelayan kesehatan. Bagi orang tua, waspadai selisih harga vaksin yang jauh. Harga eceran tertinggi vaksin di atas Rp 600 ribu.

"Kalau ketemu Rp 400 ribu jangan senang," ujarnya mengingatkan. Lebih aman lagi, vaksinlah anak di Posyandu.Sementara bagi pelayan kesehatan, sebelum memberi vaksin, mereka diminta mencatat nomor batch di botol vaksin. Sehingga ketika terjadi kasus semacam ini, asal mula vaksin mudah dilacak.

Edi lalu memberi contoh nomor bacth dari botol suntiknya. Disitu tertera angka-angka berupa kode produksi, waktu produksi, sampai harga eceran tertinggi."Anda tinggal telpon pabriknya, kasih kodenya, bisa terlacak jalur distribusinya. Nah, kode ini yang tidak bisa dipalsukan," jelasnya. Kebiasaan mencatat nomor batch akan memudahkan penyelidikan pihak berwenang.

Selama pengalaman praktek, ditanya apakah pernah melihat vaksin palsu, Edi menggeleng. "Belum pernah. Saya kebiasaan beli di jalur resmi. Walaupun harganya mahal," akunya.