Kamis, 09 Juni 2016

Inilah Beberapa Desa Kreatif Membangun BUMDesa

http://www.berdesa.com/wp-content/uploads/2016/05/160626-berdesa-810x537.gif
Nenek Kreatif

BERDESA.COM – UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa mulai menunjukkan taringnya. Meski masih ada ribuan kepala desa masih pening kepala memikirkan bentuk usaha untuk BUMDesa, beberapa desa sudah melaju kencang dengan kreativitas masing-masing, bahkan jauh hari sebelum isu BUMDesa bergaung seperti saat ini.

Informasi yang dihimpun Berdesa.com menyebut, di Nusa Tenggara Timur ada desa-desa yang memutuskan untuk memajukan desanya dari sisi pendidikan. Mereka sadar mereka butuh peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan sektor pendidikan adalah pilihan yang penting untuk di sokong. Maka desa-desa itu lalu menggunakan sebagian dananya dan melalui BUMDesa mendukung pendidikan putera-putera daerah. Caranya?

Mereka bekerjasama membangun lembaga bimbingan belajar bagi lulusan SMU di daerahnya sehingga anak-anak sekolah yang akan melanjutkan pendidikan ke universitas memiliki daya saing yang tinggi untuk mendapatkan kampus yang baik. Dana desa digunakan untuk membuka lembaga bimbingan belajar bagi anak-anak seolah yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas.

Ide ini muncul karena selama ini para pelajar di wilayah ini harus ke Pulau Jawa demi mendapatkan bimbingan belajar. Akibatnya, para orang tua harus menyiapkan biaya besar untuk bimbingan saja. Belum lagi kalau kuliah nanti. Ada beberapa efek yang didapatkan BUMDesa nan kreatif ini: Pertama, anak-anak muda yang hendak pergi menuntut ilmu mendapatkan manfaat pertambahan ilmu dan kekayaan intelektualnya dengan mengikuti bimbangan belajar ini     . Kedua, para orang tua tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak biaya untuk mendukung pendidikan anaknya. Ketiga, warga di daerah itu mengalami peningkatan kualitas karena mendapat kemudahan akses dalam pendidikan. Terakhir dan sangat penting, modal itu akan kembali beserta keuntungannya dalam durasi waktu yang bisa dihitung sehingga layak menjadi BUMDesa.

Desa Karangrejek, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta bahkan telah sejak tahun 2012 menggalang kerja BUMDesa-nya dengan usaha Pengelolaan Air Bersih Tirta Kencana (PA BTK) dan membukukan keuntungan bersih Rp. 138 juta kala itu. Air bersih adalah masalah yang sangat penting bagi desa berpenghuni 5000 – an jiwa ini karena sering dilanda kekeringan jika kemarau tiba. Berkat BUMDesa-nya yang kreatif, hantu kekurangan air yang bertahun-tahun menghantui warga Karangrejek, kini tak pernah datang lagi.

Desa yang super kreatif adalah Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Bantul. Inilah desa pemenang I Lomba Desa Nasional 2014 lalu. Segudang kreativitas ada di desa ini mulai dari transaparansi bidang pemerintahan, anti korupsi, memiliki Koran Desa, Bank Sampah yang membukukan keuntungan Rp. 360 juta pada 2014 lalu, gratis pemeriksaan hamil hingga melahirkan, ambulan desa dan dikenal sebagai Kampung Dolanan Anak. Saat ini sedang Panggungharjo sedang memulai beberapa agenda besar lain yang jauh lebih besar lagi.

Nun jauh di Sulawesi Selatan, Desa Padang Balua, Kecamatan Seko mencengangkan khalayak karena prestasi. Meski terpencil dan jauh dari keramaian, Padang Balua adalah desa yang berlimpah bahan pangan. Desa yang memiliki bandara ini memiliki tradisi musyawarah pertanian yang disebut Mukobu, yang membuat seluruh warga menjadi sangat toleran dan pintar mengelola pertaniannya. Meski terpencil desa ini menghasilkan 930 ton hasil pertanian, berlipat-lipat banyaknya dibanding kebutuhan mereka yang hanya terdiri dari 300 KK. Hampir setiap KK di desa ini memiliki lumbung pangan yang menjamin warga desa ini tidak akan pernah kehabisan bahan pangan.

Selain pertanian, peternakan juga menjadi andalan desa berpenduduk 1300-an orang ini. Tanah-tanah padang yang terhampar membuat peternakan berkembang dengan makmur. Desa ini memiliki peternakan berisi 805 ekor kerbau, 365 ekor sapi, 175 ekor kuda dan hewan ternak lain. Peternakan ini diatur oleh Peraturan Desa (Perdes) no 6 tahun 2008. Peran lembaga adat untuk menjaga keamanan dan kerukunan warga juga berjalan dengan baik di Padang Balua.

Karena kemampuan warganya yang hebat membangun kemakmuran itulah desa yang selalu dipeluk kabut karena hawa dingginya ini meraih Juara II Lomba Desa Tingkat Nasional 2014 lalu. Inilah desa yang persediaan pangannya berlipat-lipat kecukupannya.

Berkat tradisi Mukobu, Padang Balua mencapai surplus suplai pangan sejumlah 930 ton lebih per tahun. Betapa bergelimangnya pangan di Padang Balua, desa nan terpencil itu. Mereka memiliki lumbung padi rumah tangga sebanyak 300 unit sehingga tidak pernah mengalami rawan pangan dalam musim paceklik sekalipun. Di antara 330 KK berarti hanya 30 keluarga yang belum memiliki lumbung padi rumah tangga.