Jumat, 07 November 2014

Presiden Joko Widodo memunculkan harapan baru pada petani tebu dan industri gula dalam negeri

Ditengah lesunya industri gula masih semangat belajar
Peralihan pemerintahan dari presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Joko Widodo memunculkan harapan baru pada petani tebu dan industri gula dalam negeri karena sosok jokowi di kenal sebagai figur pemimpin yang pro rakyat, berawal ketika jokowi menjadi walikota surakarta adalah kemampuan pak jokowi dalam meningkatkan level pasar tradisional setara dengan supermarket, pada masa kepemimpinannya jokowi merevitalisasi semua pasar tradisional yang ada di solo, dan yang paling fenomenal adalah kemampuan jokowi yang merelokalisasi pasar klithikan ke pasar semanggi tanpa ada gejolak.

Sosok Jokowi yang pro rakyat ini memunculkan harapan baru bagi petani tebu dan industri gula, karena jika melihat komposisi kabinetnya yang di isi para profesional dan orang-orang yang “gila kerja” dan orang-orang yang berani menghadapi konflik.

Salah satunya Adalah meneg BuMN rini soemarno yang dulu pada saat menjabat memperindag menjadi figur sentral yg berani menutup kran gula impor yang memberi efek pada peningkatan harga gula dalam negeri sehingga kesejahteraan petani tebu dapat meningkat dan dapat menyelamatkan sebagian pabrik gula yang terancam gulung tikar.

Jokowi di yakini sebagai tokoh yang peka terhadap susahnya “wong cilik”, sebelum di lantik ada janjinya saat bertemu dengan asosiasi petani tebu di jawa timur akan meninjau ulang kebijakan impor gula dan ini sedikit memberi harapan baru bahwa industri gula dalam hal ini petani tebu dan pabrik gula bisa sedikit bernafas lega walau realisasinya masih belum ada.

Kita para insan yang terlibat pada industri gula indonesia sangat berharap pada masa pemerintahan jokowi ini, kesejahteraan petani pada umumnya dan petani tebu pada khususnya dapat meningkat dan pabrik gula yang notebene dulu di bentuk sebagai sarana untuk pengaman pangan dalam negeri bisa di jamin keberlangsungan hidupnya.

Semoga harapan ini bisa menjadi kenyataan, dan ketika nanti ada kebijakan khusus untuk komoditi gula, kita para insan yang terlibat dalam industri gula ini harus mentransformasi diri menjadi insan pekerja keras untuk dapat menghasilkan gula yang bersaing dengan gula impor, Hpp kurang dari 5000 adalah harga mati, karena proteksi dari negara tidak akan bisa selamanya.

Salah satunya bagaimana kita berupaya untuk selalu berkreasi  untuk meningkatkan produksi dan menurunkan biaya yaitu bisa di lakukan dengan mekanisasi, dengan mekanisasi maka perkebunan tebu akan mengarah ke budidaya precision agriculture, dimana semua bisa terukur dengan baik, sehingga biaya yang kita keluarkan tergantikan dengan produksi yang meningkat.