Selasa, 18 November 2014

Ketika Gereja di AS Digunakan Ibadah Salat Jumat

https://s1.yimg.com/bt/api/res/1.2/k2ow3gKxPEeZrdsNw5m9Gw--/YXBwaWQ9eW5ld3M7Zmk9aW5zZXQ7aD0yOTU7cT03NTt3PTUxMg--/http://media.zenfs.com/id-ID/homerun/Viva/299f2032d4c5790bd31d5a1627b83f5b
Ketika Gereja di AS Digunakan Ibadah Salat Jumat
VIVAnews - Sebuah momen bersejarah terjadi pada Jumat pekan lalu di Washington, Amerika Serikat. Untuk kali pertama, Gereja Katedral Nasional, Washington digunakan sebagai tempat umat Muslim untuk melakukan salat Jumat. 

Kantor berita AS, VOA Indonesia, melaporkan, sebelum salat dimulai, karpet-karpet sajadah dibentangkan secara diagonal, agar para jamaah menghadap kiblat tanpa melihat salib atau simbol-simbol Kristen pada Jumat pekan lalu. Pendeta Gina Campbell menyambut para jamaah dan menyebut Gereja Katedral Nasional Washington adalah tempat ibadah bagi semua orang.

Khotbah hari itu disampaikan oleh Duta Besar Afrika Selatan untuk AS, Ebrahim Rasool. Rasool, yang juga seorang Muslim, memuji toleransi dan kebebasan beragama di Negeri Paman Sam. Secara khusus, dia juga mengecam aksi ekstremisme yang telah membantai warga Kristiani di Timur Tengah.

Para pemimpin gereja dan kelompok-kelompok Muslim yang bermitra dengan mereka berharap salat Jumat ini dapat menebarkan pesan perdamaian dan menentang penggunaan agama yang ekstrem untuk membenarkan kebencian dan perselisihan. 

Inisiatif penggunaan gereja untuk tempat ibadah salat Jumat diprakarsai oleh Pendeta Campbell dan Dubes Rasool, ketika mengadakan layanan peringatan antar agama bagi Nelson Mandela tahun lalu. Rasool mengatakan, kegiatan itu merupakan simbol bagi 3 juta Muslim di Negeri Paman Sam agar merasa diterima di negara yang mayoritas beragama Kristen.

Selain itu, bermanfaat bagi kaum Muslim di negara-negara di mana mereka menjadi mayoritas untuk menunjukkan kebaikan terhadap para pemeluk agama minoritas. 

Kendati memiliki nama Gereja Katedral Nasional Washington, namun bukan berarti fasilitas ibadah itu resmi dimiliki oleh Pemerintah AS. Konstitusi di AS melarang pemerintah federal untuk membangun rumah ibadah. 

Gereja itu dibangun dengan menggunakan dana sumbangan swasta dan sering digunakan sebagai tempat acara-acara resmi seperti pelantikan dan persemayaman Presiden. (art)