Jumat, 07 November 2014

Jokowi Setuju Hentikan Impor Gula Jika Rugikan Petani

Presiden Joko Widodo saat memberikan keterangan kepada wartawan.
JEMBER, SATUHARAPAN.COM – Presiden terpilih Joko Widodo saat berdialog dengan petani tebu di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa, menyatakan setuju menghentikan impor gula jika hal itu merugikan petani.

"Kalau memang merugikan petani, dan gula di Indonesia cukup, gampang saja, kita setop impor gula," kata Jokowi pada acara "jagongan" (bincang santai) dengan ribuan petani di padepokan milik Ketua Aosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil di Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul, Jember.

Sebelumnya, Ahmad, petani asal Blora, Jawa Tengah, meminta mantan Wali Kota Surakarta itu menghentikan kebijakan mendatangkan gula dari luar negeri karena hal tersebut telah membuat gula milik petani tidak laku.

Selain soal gula impor, pada kesempatan itu Jokowi juga mendengar banyak keluhan dari para petani, mulai dari harga gula yang rendah hingga hal yang berurusan dengan rendemen tebu.

Rupiah, petani asal Semboro, Jember, mengemukakan bahwa harga gula milik petani di pasaran tidak bisa mencapai harga patokan petani (HPP) sebesar Rp8.500,00.

Rozi, petani asal Kabupaten Lumajang mengingatkan Jokowi tentang pentingnya meremajakan mesin-mesin tua yang kini ada di sejumlah pabrik gula (PG) karena hal itu berpengaruh pada hasil produksi gula.

Karena mesin yang sudah tua, kata dia, dalam 1 kuintal tebu dengan rendemen sekitar 7 persen, petani hanya bisa menghasilkan 5 kilogram gula.

"Bayangkan Bapak, dari 1 kuintal tebu hanya mendapatkan 5 kilogram gula. Kalau mesin bagus, hasil yang kami dapatkan pasti tidak serendah itu," katanya.

Mendapatkan keluhan itu, Jokowi mengemukakan bahwa setelah dirinya bersama dengan Jusuf Kalla dilantik, akan segera menghitung persoalan yang berkait dengan tebu dan gula, termasuk kemungkinan subsidi untuk petani tebu.

Ia mengemukakan bahwa kedatangannya ke Kabupaten Jember saat ini untuk mengetahui secara langsung persoalan yang dihadapi rakyat dari kalangan petani tebu.

"Saya ke sini untuk mendengarkan keluhan dari panjenengan semua. Dengan begini saya tahu persoalan petani apa, dan bapak ibu sekalian pasti juga punya solusi," ujarnya.