Jumat, 18 Juli 2014

Jawaban Kenapa Penjumlahan Suara Prabowo-Hata dengan Suara Jokowi-JK Tidak Sama Dengan Jumlah Suara Sah?

Capres cawapres
Tiga hari terakhir ini situs www.kawalpemilu.org naik daun sebagai referensi utama banyak orang untuk melihat perkembangan tabulasi suara Pilpres 2014. Di saat yang sama, ada beberapa orang meragukan validitas tabulasi suara yang dilakukan teman-teman relawan kawalpemilu. Permasalahannya sederhana, karena penjumlahan suara yang diperoleh pasangan Pilpres Prabowo-Hata dengan Jokowi-JK tidak sama dengan jumah total suara penjumlahan keduanya. Ini memang penjumlahan matematika sederhana tapi kenapa bisa inkonsisten? Sejumlah prasangka dan keraguan terhadap integritas, objektifitas dan independensi para relawan diserang cukup tajam sejak hari Rabu kemarin (16 Juli 2014). Mereka mencoba menjatuhkan kredibiltas karya yang telah dilakukan Ainun Najib dibantu para relawan dari seluruh pelosok Indonesia bahkan dunia. Kalau penjumlahan sederhana saja salah, bagaimana kita bisa percaya dengan hasil tabulasi perhitungan suara nasional yang dilakukan?

Saya sebagai salah satu relawan pengentry data tahu betul bagaimana teman-teman berdedikasi dan berkomitmen mendukung proses Pilpres yang jujur dan bersih, dan ingin berkontribusi terhadap pembangunan demokrasi yang sehat di Indonesia. Teman-teman tidak ada hentinya bekerja non-stop sejak hari Minggu sore tanggal 13 Juli 2014 dari segala penjuru tanah air. Sebagian lagi bekerja dari tempat masing-masing di luar negeri, di belahan benua Eropa, Amerika atau Australia. Saya akan menjelaskan secara teknis beberapa sebab kenapa ada perbedaan angka antara penjumlahan suara Prabowo-Hata dengan suara Jokowi-JK dengan jumlah suara sah sebagai berikut.

Pertama. Perbedaan angka terjadi karena formulir C1-nya sudah salah, Panitia Pemungutan Suara (PPS) salah menjumlahkan. Pengentry data bertugas memasukan angka persis sama dengan yang tertulis di formulir C1. Hal ini tentu berakibat hasil perhitungan akhir suara nasional. Contoh kasus ini terjadi di TPS 1 Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Di TPS ini total suara yang diperoleh pasangan Prabowo-Hatta adalah 24 dan pasangan Jokowi-Jk adalah 238. Penjumlahan keduanya tertulis 263 di formulir C1. Padahal penjumlahan ini seharusnya 262. Ada 1 kelebihan suara disini.
http://www.kawalpemilu.org/#0.53241.53508.53559.53567

Kedua. Masih terkait dengan sebab pertama, sebab kedua adalah petugas PPS tertukar menuliskan angka penjumlahan suara sah dengan suara tidak sah. Contoh kasus ini terjadi di TPS 1, Desa Karang Asem, Kecamatan Karang Asem, Kabupaten Karang Asem, Provinsi Bali. Tertulis di formulir C1, suara yang diperoleh pasangan Prabowo-Hata 235, Jokowi-JK 354, Jumlah seluruh suara sah 8 dan Jumlah suara tidak sah 597. Pengentry data memasukan angka-angka ini persis sama kedalam kolom-kolom yang sudah disediakan. Tentu karena penjumlahan tidak konsisten mengikuti yang tertulis di formulir C1, hasil tabulasi di tingkat yang lebih tinggi (desa, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional) akan tidak konsisten pula.
http://www.kawalpemilu.org/#0.53241.53508.53532.53544

Ketiga. Perbedaan angka karena pengentry data salah memasukan data. Contoh kasus ini terjadi di TPS 3, Desa Petak, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Pengentry data memasukan angka 48 untuk Prabowo-Hata dan 247 untuk Jokowi JK, dengan total penjumlahan keduanya 395. Padahal seharusnya suara Jokowi-JK 347 mengacu ke formulir C1. Memang tulisan di formulir C1 ini agak sulit dibaca tapi kalau diperbesar akan jelas terlihat bahwa suara Jokowi-JK adalah 347.
http://www.kawalpemilu.org/#0.53241.53508.53532.53544

Menghadapi permasalahan Pertama dan Kedua diatas pengentry data sudah betul memasukan data sesuai dengan yang tertulis di formulir C1. Walaupun pengentry data tahu bahwa penjumlahan yang tertulis di formulir C1 keliru tapi dia mempertahankan integritasnya untuk memasukan data apa adanya. Tapi, ini tentu berdampak pada konsistensi perhitungan aggregate di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi sampai nasional.

Namun demikian, satu kelebihan sistem yang dibuat oleh Ainun Najib dan kawan-kawan adalah adanya mekanisme dimana sesama sukarelawan pengentry data saling mengkoreksi, menandai TPS mana saja sebagai error. Error terjadi jika formulir C1 atau data yang dimasukan oleh pengentry data mengalami kesalahan. Apakah angka-angka formulir C1 tidak konsisten dan meragukan; dan apakah pengentry data sudah betul memasukan angka yang ada di formulir C1. Sistem yang dibuat sangat transparan, kita bisa mencek data sampai tingkat TPS dengan sumber data yang jelas yaitu hasil scan formulir C1.

Komitmen, kerja keras dan semangat para relawan dipelopori Ainul Najib dan tim web developer/programmer tidak diragukan lagi. Mereka bisa menyelesaikan pekerjaan raksasa hanya dalam hitungan hari. Sesuatu yang membuat banyak orang tidak percaya, takjub. Tapi itu terjadi!
Semoga Pilpres bersih dan jujur terwujud, dan demokrasi yang sehat kedepan terus terbangun di Indonesia. Amin!

Wasalam,
Seorang Relawan.