Senin, 30 Juni 2014

Pemikiran Seorang Wapres Boediono tentang Demokrasi

http://wapresri.go.id//kegiatan/detail/140626munggah_web.JPG
Wakil Presiden Boediono berjabat tangan dengan Prof. Quraish Shibab di Istana Wakil Presiden. (Foto : Muchlis)

Pidato Bung Karno di Kongres Amerika Serikat 17 Mei 1956

Pada bulan September 1955, Republik Indonesia yang masih sangat muda menyelenggarakan  pemilihan umum (pemilu) yang pertama. Pemilu itu berlangsung dengan sangat baik.  Harapan sangat tinggi bahwa demokrasi di Indonesia kemudian akan semakin mantap. Tetapi sejarah ternyata tidak mencatat demikian. Setelah itu kehidupan demokrasi  di Indonesia terus menyurut. Apa yang salah?
  
Delapan bulan setelah pemilu itu, Presiden Soekarno mengadakan perlawatan ke Amerika Serikat dan di sana menyampaikan pidato di hadapan Sidang Gabungan Kongres Amerika Serikat. Pidato itu membahas berbagai masalah dunia dan mendapat sambutan luar biasa. Ada satu bagian dari pidato tersebut yang mengupas mengenai masalah demokrasi yang ingin saya kutip disini. Inilah kata-kata beliau dari teks pidato aslinya :

“... We have our feet on the road to democracy, and we have made a good start. But we will not deceive ourselves with the false illusion that we have traversed the full extent of the road to democracy, if indeed any end there be.

The secret ballot, the free press, the freedom of belief, the votings in parliaments - these are all merely expressions of democracy. Freedom of expression has a guardian in a certain measure of prosperity, the achievement of freedom from want.

For us then, democratic principles are not simply an aim. The expression of desire inherent in human nature, they are also a means of providing our people with reasonable standard of living. The freedom of expression and the freedom of wants are indivisible, two interdependent souls in our body.

As with all other freedoms, freedom of expression is no absolute, its indiscriminate and unrestrained exercise could hamper harmonious growth of other freedoms, could hamper the harmonious growth from want, and thus sow the seed for the destruction of the fundamentals of human freedom itself...

... To the famished man democracy can never be more than a slogan.  What can a vote mean to a woman worn out by toll, whose children fret and all with the fever of malaria?   Democracy is not merely government by the people, democracy is also government for the people
..."

Terjemahan bebas oleh admin :
"... Kami memiliki kaki kami di jalan menuju demokrasi, dan kami telah membuat awal yang baik. Tapi kita tidak akan menipu diri kita sendiri dengan ilusi palsu yang telah kita dilalui sepenuhnya jalan menuju demokrasi, jika memang akhir setiap ada.

 Pemungutan suara secara rahasia, pers bebas, kebebasan berkeyakinan, para votings di parlemen - ini semua hanyalah ekspresi demokrasi. Kebebasan berekspresi memiliki wali dalam ukuran tertentu kemakmuran, pencapaian kebebasan dari keinginan.

Bagi kami itu, prinsip-prinsip demokrasi bukan sekedar tujuan. Ekspresi keinginan yang melekat dalam sifat manusia, mereka juga merupakan sarana untuk memberikan orang-orang kami dengan standar hidup yang layak. Kebebasan berekspresi dan kebebasan keinginan yang tak terpisahkan, dua jiwa saling bergantung dalam tubuh kita.

Seperti dengan semua kebebasan lainnya, kebebasan berekspresi tidak absolut, olahraga sembarangan dan tak terkendali yang bisa menghambat pertumbuhan harmonis kebebasan lainnya, bisa menghambat pertumbuhan yang harmonis dari keinginan, dan dengan demikian menabur benih untuk menghancurkan dasar-dasar kebebasan manusia itu sendiri. ..

... Untuk pria demokrasi kelaparan tidak pernah bisa lebih dari slogan. Apa yang dapat suara berarti seorang wanita yang dikenakan oleh korban, yang anaknya resah dan semua dengan demam malaria? Demokrasi bukan hanya pemerintahan oleh rakyat, demokrasi juga pemerintah untuk rakyat ... "

Kata-kata peringatan Bung Karno ini penting untuk diingat, apabila kita inginkan demokrasi kita kali ini tidak gagal seperti dulu.