Jumat, 20 Juni 2014

Juara-Juara Akar Rumput Lahir dari 15 Tahun PNPM

http://wapresri.go.id//berita/detail/140611pnpmchampion_web.JPG
Wapres Boediono diapit Ibu Asnaini dari Takengon, Aceh Tengah dan Pak Sugito dari Kota Yogya, penggiat PNPM
Jakarta. Setelah berjalan lebih dari 15 tahun, program pemberdayaan masyarakat telah berhasil menumbuhkan juara-juara dari akar rumput. Meski namanya tak terdengar di ibukota, namun mereka menjadi champion alias sumbu perubahan dan inspirasi bagi daerahnya untuk mencapai perbaikan hidup dan kesejahteraan. Dua di antaranya adalah Ibu Asnaini dari Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Pak Sugito dari Kota Yogya, Provinsi D.I. Yogyakarta.

Saat mengunjungi Wakil Presiden Boediono di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, 11 Juni 2014, kedua tokoh penggerak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) tersebut mengungkapkan keinginan mereka agar program tersebut bisa berlanjut. Pagi harinya Ibu Asnaini dan Bapak Sugito menjadi dua narasumber yang ditampilkan dalam acara peluncuran buku, video dokumenter dan pameran foto 15 Tahun PNPM di Jakarta Theatre.  Hadir bersama Ibu Asnaini dan Bapak Sugito menemui Wapres adalah Deputi Menko Kesra bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Sujana Royat, Susanne Holste dari PNPM Support Facility dari Bank Dunia dan Muhammad Yunus, Ade Wahyudi, Metta Dharmasaputra dan Lin Che Wei dari Kata Data sebagai pihak penulis buku.

Wakil Presiden Boediono menyatakan bangga atas keberhasilan program yang embrionya dimulai sejak program tersebut bernama Program Pengembangan Kecamatan (PPK) saat ia menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas tahun 1998/1999. Proyek pertama diluncurkan tepatnya di Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, keberhasilan PNPM adalah akibat desain programnya yang mengusung nilai check and balances. "Tentu ada kekurangan di sana-sini tapi semoga bisa diperbaiki terus. Tapi kuncinya adalah di sistem pendampingannya. Kalau lepas, bisa berhenti di tengah jalan," katanya.

Menurut Deputi Menko Kesra bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Sujana Royat, program PNPM menuai banyak pujian sebagai program pembangunan wilayah yang berhasil di negara berkembang. Kini banyak studi dilakukan atas PNPM, salah satunya oleh Australia dan banyak pula negara-negara berkembang yang mengikuti desain program PNPM untuk memajukan daerah tertinggalnya. Tokoh seperti Ibu Asnaini, lanjutnya, yang jumlahnya mencapai ribuan di penjuru tanah air, membina setidaknya seratus perempuan di daerahnya. "Bila kemandirian dan semangat Ibu Asnaini ditularkan, maka daerah-daerah tertinggal bisa bangkit menyelesaikan sendiri masalahnya," katanya.

Bagi Ibu Asnaini, yang berkat keaktifannya memberdayakan kaum ibu di Takengon kini didaulat menjadi kepala desa, yang paling penting justru keberadaan PNPM menjadi alat memacu semangat perubahan. Di daerahnya, dana PNPM disalurkan untuk menjadi modal Kelompok Simpan Pinjam Perempuan dengan modal awal Rp 20 juta, namun berkembang bervariasi hingga Rp50 juta dan terus bertambah. "Semangat dulu untuk berbuat. Nanti modal mengikuti. Dengan ibu-ibu berdaya, uang itu lebih dapat dipertanggungjawabkan," katanya.

Sementara untuk Bapak Sugito, dana PNPM di wilayahnya di Karang Baru, Kota Yogya digunakan untuk memperbaiki pemukiman kumuh di bantaran sungai. Meski dana PNPM terbatas, namun kehadirannya kemudian menjadi pemancing bagi perbaikan secara keseluruhan yang kemudian didukung oleh dana masyarakat.

Wapres mengungkapkan, meski masa bakti pemerintahan saat ini tinggal 4.5 bulan lagi namun ia memastikan bahwa usulan alokasi dana PNPM tetap diadakan dalam RAPBN 2015 yang masih berada dalam kewenangan pemerintah saat ini. "Semoga teman-teman di DPR nanti menyetujui program yang telah terbukti berjalan dengan baik selama 15 tahun lebih ini," katanya.