Selasa, 29 April 2014

Saat WNI Disuruh Tiarap dalam Penggerebekan Menegangkan di Masjid Ceko

http://images.detik.com/content/2014/04/29/10/115659_ekancekoceskenovinycz.jpg
Polisi Ceko Manahan Jamaah Shalat Jum'at
Jakarta - Seratusan umat Islam, termasuk 10 WNI dan seorang diplomat KBRI Praha, berada dalam masjid dan pusat komunitas Islamic Foundation saat penggerebekan oleh Polisi Ceko terjadi saat salat Jumat, 25 April 2014 lalu. Penggerebekan berlangsung menegangkan karena semua yang ada di masjid disuruh angkat tangan lalu tiarap.

Diplomat KBRI Praha itu diketahui adalah First Secretary KBRI Praha, Wahono Yulianto.
"Kami tidak habis pikir mengapa polisi datang. Mereka membuat kami mengangkat tangan dan kemudian tiarap di lantai. Mereka masuk ke ruang salat masih bersepatu dan berteriak," demikian dikatakan Wahono seperti dilansir New York Times, Senin (28/4/2014).

Dari media Ceko, ceskenoviny.cz, tampak foto para polisi yang akhirnya mengangkut 5 orang dari seratusan jamaah di masjid itu. POlisi itu berasal dari Squad for Uncovering Organised Crime (UOOZ). Mereka mengenakan seragam serba hitam yaitu helm, rompi antipeluru, kacamata hitam/penutup wajah serta bersenjata. Penampilan garang mereka mirip pasukan Densus 88 saat menjalankan operasi.

Wahono mengatakan bahwa beberapa orang berusaha berbicara pada polisi bahwa dirinya serta beberapa orang lain adalah diplomat dan staf KBRI. Namun usaha itu tidak berhasil. Yulianto juga sudah menunjukkan dokumen diplomatik namun polisi tetap menolaknya.

Wahono dan WNI lain akhirnya sempat ditahan polisi selama 1,5 jam sebelum akhirnya dilepaskan. Karena insiden itu, KBRI Praha melayangkan nota protes pada Ceko.

Penggerebekan itu karena bedah buku berjudul "The Bases of Tauhid: The Islamic concept of God" yang digelar di masjid tersebut dinilai rasis. Buku itu karangan Abu Ameenah Bilal Philips, seorang imam kelahiran Jamaika yang telah dilarang memasuki Australia dan Inggris, serta diusir dari Jerman karena pandangan kritisnya yang dinilai cenderung mengarah pada ekstremis.

Juru bicara kepolisian Ceko, Pavel Hantak, mengatakan buku yang sedang dibedah itu dinilai menyebarkan rasisme, paham anti-Semit, xenophobia (ketakutan akan orang asing) dan menganjurkan cara kekerasan melawan ras yang inferior, seperti dikutip dari Prague Post edisi Jumat, 25 April.

Penggerebekan yang berlangsung selama 4,5 jam itu menahan sekitar 10-20 orang. Menurut saksi, di dalam masjid dan Pusat Islamic Foundation ada sekitar 100 orang. Polisi memborgol para laki-laki yang ditahan. Menurut saksi ada orang sakit dan anak-anak yang pertama dibebaskan dari masjid itu, baru kemudian ada diplomat yang berasal dari Indonesia. Sisanya, tetap berada di dalam.

Juru bicara Kemenlu Michael Tene kepada detikcom, Selasa (29/4/2014) memberikan penjelasan bahwa saat penggerebekan di dalam masjid di Ceko itu, ada 10 WNI dan seorang diplomat sempat diperiksa dan ditahan tak boleh keluar dari masjid oleh polisi Ceko. Saat itu para WNI dan diplomat hendak menunaikan ibadah salat Jumat, bukan mengikuti bedah buku.

Pihak KBRI yang mendapat laporan langsung menghubungi Kemlu c/q Polisi Ceko untuk memperbolehkan para WNI meninggalkan masjid. "KBRI sudah sampaikan protes ke Kemlu Ceko dan permintaan penjelasan atas insiden tersebut. Kemlu juga akan sampaikan hal-hal tersebut kepada Kedubes Ceko di Jakarta," ungkap Tene.